Friday, July 12, 2019

stambul gumuk Klanangan


di gumuk Klanangan,
sebab angin memindai garam,
masalalu memedihkan udara,
dan luka kembar di tubuh kita.
sedang bisik layup para tetua,
bagai rumputan kering,
diaduk angin yang berpusing.

: kita telah lama abai,
dan lebih banyak mengandai.

di gumuk Klanangan,
sejarah peradaban tak berbunyi,
kearifan yang dibangun angin,
beratus tahun dicekam dingin.
dan saat cuaca bersalin rupa,
serbuan serdadu dari arahmu,
menikam belati dan mesiu.

: kita telah lama abai,
dan lebih banyak mengandai.

di gumuk Klanangan,
bukan hanya pohon dan kentongan,
pasir batu dan keluh lembu,
huma kebun dan stambul gurun.
semua telah lama dibunyikan,
berahut mengatapi khutbah,
di hati mana telah musnah.

© kaibon, 29 desember 2010

0 comments:

Post a Comment