Thursday, July 16, 2009

serenada sireplare

-sore masih kelabu di rumah Abu, ketika Ia
menutup doa dan membuka cekung mataNya
jauh dì atas rumputan kering samar-samar jelaga
cucunya telah jadi tujuh warna bianglala-

: dulu, nak. Di sini ada tawuran antar kampung
semua orang mabuk solidaritas salah kaprah
Aku puasa di atap rumah, mengunyah pepaya
yang bukan main rasa pahitnya
sembari melepas japa-mantra. Dan turun di hari ke tiga
pembantaian itu terjadi juga.
Suatu hari, ketika orang desa rebut tanah
dan yang lain tuntut naìk upah. Di hari Sabtu resah
selusin tetangga dimakan peluru biji timah
lepas lohor sekujur tubuh berlumur darah.

-sore tetap kelabu di mata Abu, ketika Ia berdiri
menyeduh kopi rebusan bratawali dan tak ada gula
sebab takut pasar telah penuh mata-mata
di luar, polutan industri mengepung suntuk hari-hari-

: dulu, nak. Tiap kali demukrasi ada pestanya
hìruk-pikuk pawai, kasak-kusuk partai
kata mereka, gambar-gambar mesti dicoblos
samar-samar tulang bahuku terasa keropos.
Lalu aku sakit bisu, sebab seluruh desa kena wabah pemilu
Suatu hari, nak. di bulan suci ke tiga
aku ditanya soal baju dan warna
dan Seperti biji mataku, kutunjukkan warna putih semua
tanpa kata aku digelandang ke markas tentara.

-sore makin kelabu dan di atas rumputan kering
tak lagi ada bianglala di langit bediding
bersungut Abu yang tua dan buta. Mengusut pipa rokoknya
di luar sore berjelaga, udara liwung penuh tuba-

© babat, gunungpegat, april 2001

0 comments:

Post a Comment